TLASAMUREP
Di
pelosok desa Blitong terdapat sebuah rumah sederhana milik Mak Surti. Mak Surti
adalah orang miskin yang suka menolong orang yang sedang kesusahan. Ia juga
mempunyai seorang anak yang bernama Joko. Joko adalah anak yang selalu patuh
akan perintah Mak Surti.
Setiap
harinya, Mak Surti selalu mencari kayu bakar di hutan Baijin. Sedangkan, Joko
mencari buah-buahan dan sayuran untuk dimakan.
“
Mak, aku pergi dulu ke hutan ya.” Pamit Joko.
“ Ya,
sana. Nanti Mak nyusul.” Jawab Mak Surti.
Mak
Surti pun bergegas menyelesaikan pekerjaan rumah. Setelah selesai, Mak Surti
pun bergegas menuju hutan Baijin. Namun, saat akan berangkat Joko pun pulang.
“
Assalamu’alaikum, Mak.” Salam Joko.
“
Wa’alaikum salam.” Jawab Mak Surti sambil menbuka pintu.
“ Eh
kamu sudah pulang ya, Joko. Cepat sekali.” Tanya Mak keheranan.
“
Iya, Mak. Karena di hutan banyak buah-buahan dan sayuran yang sudah
masak, makanya aku pulang cepat.”
“
Joko, tolong jaga rumah ya ! Mak mau pergi ke hutan dulu.”
“
Baik, Mak.”
Mak
Surti pun bergegas pergi ke hutan Baijin. Setelah sampai di hutan Baijin, mak
Surti langsung mengambili ranting-ranting pepohonan yang berjatuhan untuk
digunakan sebagai kayu bakar.
Saat
perjalanan pulang, Mak Surti berpapasan dengan Bu Minah yang sedang bersama
dengan Marni anaknya.
“
Assalamu’alaikum, Mak.” Sapa Marni.
“ Wa’alaikum
salam.”
“
Mak, dari mana ?” Tanya Bu Minah.
“ Mak
baru saja pulang dari mencari kayu bakar di hutan Baijin.”
Jawab Mak Surti.
“
Oh……, ya sudah. Kami duluan ya, Mak.”
“
ya.”
Setelah
sampai di rumah, Mak Surti langsung memasak makanan yang sudah Joko cari tadi.
Setelah jadi, mereka pun langsung memakan makanan tersebut.
“
Enak ya, Mak.” Ujar Joko.
“
Iya, dong. Masakan siapa dulu ? Emak.”
“
Iya, masakan Mak memang yang paling enak.” Jawab Joko sambil memuji Mak.
Setelah
mereka selesai makan, mereka pun melanjutkan perkerjaan mereka seperti
biasanya. Setiap hari, pekerjaan seperti itu dilakukan oleh Mak Surti dan Joko.
Suatu hari, datang seorang peminta-minta ke rumah Mak Surti.
“
Mak, minta Mak.” Kata peminta-minta.
“ Ini
Mak kasih pisang goreng. Maaf ya, Adanya hanya itu.”
“
Tidak apa-apa Mak. Terimakasih ya, Mak.”
“
Sama-sama.”
Mak
pun melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian, datanglah seorang saudagar
kaya yang sombong. Saudagar kaya tersebut bernama Pak Umar.
“
Sedang apa kau Mak ?” Tanya Pak Umar.
“ Mak
sedang menyapu halaman.” Jawab Mak Surti.
“ Mak,
kenapa rumah Mak seperti gubug reot ?”
“ Ya,
karena memang uang Mak hanya cukup untuk membangun rumah ini.”
Jawab Mak merendah.
“ Apakah
Mak semiskin itu ?”
“ Yah…,
memang kehidupan Mak begini. Mak sudah berusaha, jadi Mak
harus mensyukurinya.”
“
Kasihan, rumah Mak seperti ini.”
Pak
Umar pun meninggalkan Mak. Setiap hari, setiap Pak Umar datang, pasti kerjaanya
hanya mengejek Mak saja. Tetapi, dia juga merasa kesal kepada Mak. Karena
setiap Pak Umar mengejek, Mak tetap saja
sabar dan tidak marah kepada Pak Umar.
Suatu
hari saat Joko sedang mencari kelapa di hutan untuk dimakan, tiba-tiba Joko pun
jatuh dari pohon kelapa tersebut. Luka yang diderita Joko pun cukup parah,
sehingga kakinya patah. Akibat kejadian tersebut, Mak pun kekurangan bahan
makanan karena tidak ada yang mencarinya. Mak pun mencoba meminjam uang kepada warga
desa Blitong untuk biaya Joko berobat ke tabib.
“ Bu
Minah, bolehkah saya meminjam uang untuk berobat anak saya Joko, Bu ?”
“ Maaf
ya, Mak. Saya juga sedang butuh uang untuk anak saya sendiri.”
“ Oh,
begitu. Ya, tidak apa-apa.”
“ Oh
ya, Mak. Saya dengar-dengar di dalam hutan Baijin terdapat sebuah pohon
yang dapat menyembuhkan segala penyakit.
Tanaman tersebut bernama Tlasa-
murep. Mungkin saja bisa menyembuhkan
penyakit Joko.”
“ Oh,
begitu. Nanti Mak akan coba cari tanaman tersebut.”
“
Oh,ya. Dan katanya siapa saja yang bisa menyabut pohon tersebut nantinya ia
akan bisa
menyembuhkan segala penyakit dengan caranya sendiri.”
Mendengar
kata Bu Minah, Mak pun langsung pergi ke hutan Baijin untuk mencari tanaman
yang diberitahukan padanya tadi. Mak pun mencari dengan sabar tanpa mengenal
kata menyerah. Hingga tak lama kemudian, Mak pun berhasil menemukan tanaman
tersebut. Mak pun berhasil menyabut pohon tersebut.
Ia pun langsung menyeduh tanaman
tersebut dengan air panas. Setelah itu, air hasil seduhan tersebut diberikan
pada Joko untuk Joko minum.
“
Joko, ini obatnya. Diminum ya supaya cepat sembuh.” Suruh Mak.
“ Ya,
Mak. Aku akan giat meminum obat ini, agar aku bisa mengerjakan
pekerjaanku seperti biasanya lagi.”
2
hari kemudian, Joko pun sembuh. Mak sekarang sudah lega karena Joko tidak sakit
lagi. Mendengar hal tersebut Pak Umar tidak suka. Suatu hari, pak Umar
berencana akan menyesatkan mak Surti ke dalam hutan Baijin. Dengan cara mentipu
dayainya.
“ Mak Surti saya dengar-dengar, di hutan Baijin yang
sebelah selatan terdapat
banyak sekali
kayu bakar, buah-buahan, dan sayuran.”
“ Apa
benar ? kalu begitu Mak akan pergi ke sana sekarang.” Jawab Mak Surti.
Mak Surti pun bergegas pergi ke tempat yang ditunjukkan
oleh Pak Umar.
“
Mak, kok lama sekali, pasti dia sudah tersesat di hutan. Tetapi. Apa benar
kalau
Mak Surti sudah tersesat.”
Karena
penasaran, Pak Umar pun mencoba mengecek ke dalam hutan Baijin. Saat Pak Umar
mengecek, ternyata Mak sudah keluar dari dalam hutan Baijin sambil membawa
beberapa kayu bakar, buah-buahan, dan sayuran.
“
Kenapa Mak tidak ada juga ya ?”
Pak
Umar pun mencoba keluar dari hutan Baijin tersebut. Namun, Pak Umar lupa jalan
menuju untuk pulang dan akhirnya ia tersesat. Beberapa hari kemudian, Pak Umar
tetap berada di dalam hutan Baijin. Ia pun dipenuhi oleh rasa takut, was-was,
dan khawatir.
“
Kenapa tidak ada yang menolongku juga. Kan aku takut di sini sendirian.”
Mak
Surti pun mendengar kabar tentang Pak Umar yang sudah 3 hari ini tidak pulang
juga. Warga desa Blitong pun ikut khawatir. Mak Surti pun mencoba mencari Pak
Umar ke dalam hutan Baijin.
“ Pak
Umar, Pak Umar di mana ?” Ujar Mak.
Beberapa
kali Mak mengucapkan kata itu, namun tidak ada yang menyahutnya. Hingga tak
lama kemudian, Mak mendengar rintihan orang yang sedang lapar. Mak pun
menghampiri suara tersebut.
“ Pak
Umar, apakah kau Pak Umar ?” Tanya Mak.
“ ya,
benar. Ini aku Pak Umar, Mak.”
“ Pak
Umar kamu kemana saja selama ini ?”
“ Aku
tersesat di sini, Mak.”
“ Apa
yang menyebabkan kau tersesat di sini, Pak Umar ?”
“
Maafkan aku, Mak.”
“
Maaf atas apa Pak Umar ?”
“
Sebenarnya, yang kemarin aku bilang itu hanya jebakan saja Mak. Agar
Mak tersesat
di hutan ini. Tetapi, malah aku sendiri yang tersesat.”
“ Ya, tidak apa-apa kok. Kesalahan Pak Umar sudah Mak
maafkan.”
“ Terima kasih ya, Mak.”
Sejak saat itu, pak Umar menjadi pribadi yang lebih
baik lagi dari sebelumnya. Semua itu berkat Mak Surti. Sekarang, Pak Umar
menjadi saudagar kaya yang dermawan dan suka menolong.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar